Sejak berdiri hingga masa kepengurusan Periode ke III, Suryo Sumanto menjabat sebagai Ketua Umum PARFI. Pada masa itu, kepengurusan Suryo Sumanto, merupakan tonggak bagi PARFI dalam memperjuang- kan dan mempertinggi derajat dan mar- tabat kesenian melalui Film Nasional.

Organisasi PARFI tidak hanya didukung oleh Artis, melainkan juga oleh mereka yang bergerak di belakang kamera atau kru (karyawan). Namun, setelah para karyawan membentuk organisasinya sendiri, yakni KFT (Karyawan Film dan Televisi) pada 22 Maret 1964, maka PARFI sepenuhnya hanya beranggotakan para Artis Film. Pada 1971, ketika Suryo Sumanto meninggal dunia, jabatan Ketua Umum PARFI di lanjutkan oleh Wahyu Sihombing sebagai pejabat sementara. Setahun kemudian, terpilihlah Sofia WD sebagai Ketua Umum PARFI Periode ke IV, dengan jumlah anggota  yang  terus  bertambah,  seiring kegiatan produksi yang mulai ramai. Hal itu terjadi sampai dengan kepengurusan Soedewo (1975–1977). Pada era 1970-an, film Indonesia memulai masa keemasan- nya, berkat diterbitkannya SK Bersama No. 71 oleh Menteri Penerangan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, dan Menteri Dalam Negeri, yang mewajibkan para importir film untuk memproduksi Film Nasional, dan setiap produksi film harus mendapatkan rekomendasi dari PARFI.

SHARE
Previous articleCharlie Sahetapy
Next articleUsmar Ismail Award 2017

LEAVE A REPLY