KETUA UMUM PARFI KE I PERIODE : 1958 – 1964 & 1964 – 1971

Suryo Sumanto lahir di Klaten, Jawa Tengah, 15 September 1918. Meski hidup di zaman kolonial Belanda, putra Raden Ngabehi Mangunsuromo ini mendapat kesempatan bekerja sebagai guru Neutraalschool Delanggu, Verslaggeyex in die Bode di kota kelahirannya. Selain mengajar, Suryo juga berkecimpung di dunia jurnalistik sebagai
wartawan lepas dengan menggunakan nama samaran Sumantri. Seorang kakak Suryo bernama SK Trimurti juga dikenal sebagai tokoh pers nasional dan tokoh politik.

Di sela waktunya yang tersita karena memburu berita, Suryo juga aktif berorganisasi. Ia pernah menjabat sebagai ketua cabang Klaten serta menjadi ketua Perda. Selain itu, sejak muda ia giat dalam sejumlah perkumpulan seni, antara lain menjadi anggota Menteng 31 dan rombongan seniman Merdeka yang turut aktif berpropaganda untuk mencapai kemerdekaan.

Di bawah PARFI, rasa kebersamaan antar seniman film pun kian kuat karena perasaan senasib sepenanggungan di antara mereka. Meski demikian, di awal berdirinya, masih banyak tujuan PARFI yang belum bisa diwujudkan, salah satunya adalah membersihkan organisasi tersebut dari kegiatan berpolitik.
Di tahun 40-an, setelah kekuasaan atas Indonesia berpindah ke tangan Jepang, Suryo ditunjuk sebagai pemimpin pertunjukan keliling untuk Pusat Kebudayaan yang menyajikan film, sandiwara, dan seni tari. Kemampuan menulisnya mengantarkan Suryo ditempatkan di bagian pers dan propaganda pada organisasi bentukan pemerintah Jepang, Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA). Suryo juga bertugas di Jawa Hokokai sebagai pembantu umum latihan kebudayaan Sendenbu.

Pasca proklamasi kemerdekaan, ia kian giat berkiprah di berbagai lembaga dan organisasi terlebih yang bergerak di bidang jurnalistisk dan kesenian. Selain pernah tercatat sebagai anggota pimpinan Pers dan Propaganda Jawatan V serta anggota berani dengan pangkat Kapten pada KeMenterian Pertahanan, ia juga pernah memangku jabatan sebagai Ketua Umum Badan Permusyawaratan Sandiwara Indonesia (Bapersi), anggota redaksi majalah tentara, Harian Patriot di Yogyakarta, anggota redaksi majalah kebudayaan Arena, pemimpin perkumpulan sandiwara amatir Sekar Hati, anggota sandiwara Ganesha, anggota direksi Lembaga Kebudayaan, dan wakil ketua seksi film dan sandiwara.

Pada tahun 1950, Suryo bersama salah satu rekannya, Usmar Ismail mendirikan Perfini (Persatuan Film Nasional Indonesia). Enam tahun berselang, tepatnya 10 Maret 1956, berdirilah PARFI (Persatuan Artis film Indonesia) yang didasari dengan semangat untuk memberikan kontribusi bagi bangsa guna mewujudkan cita-cita memajukan Negara berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Organisasi tersebut pertama kali diproklamirkan di Gedung SBKA Manggarai, Jakarta dengan sekretariat di Jalan, Kramat V, Jakarta Pusat.

Lahirnya PARFI berawal dari vakumnya kegiatan SARI (Sarikat Artis Indonesia) sejak pemerintah Jepang berkuasa di Indonesia. Kongres pertama organisasi tempat para artis film bernaung itu akhirnya memilih Suryo Sumanto sebagai Ketua Umum. Selanjutnya untuk melanjutkan roda organisasi, Suryo dibantu para anggota yang terdiri dari Rendra Karno, Kotot Sukardi, Basuki Effendi, Wildan Dja’far, Sofia Waldy, Deliana Surawidjaja, Idrus Nawawi (Palembang), Eddy Saputra (Medan), Basuki Zailani (Bandung), Ismail Saleh (Semarang), Abdul Gafur (Surabaya), dan Subekto (Yogya).

Di masa itu, organisasi profesi keartisan yang diresmikan Ibu Negara Hj.
Fatmawati Soekarno itu merupakan satu-satunya organisasi yang menjadi pilihan bagi insan perfilman Indonesia untuk memperjuangkan cita-cita seperti yang pernah disampaikan H. Usmar Ismail, “Dengan film kita bisa memberikan sumbangan pada revolusi Indonesia. Sebagai organisasi, PARFI juga diharapkan dapat menjadi wadah, alat penghimpun dan pemersatu, dan penyaluran daya kreasi serta amal perjuangan Artis film Indonesia dalam pengabdiannya kepada bangsa dan negara, khususnya mempertinggi derajat dan martabat kesenian melalui film nasional.” Keberadaan PARFI dikukuhkan oleh pemerintah sebagai Organisasi Profesi dengan kekuatan Rekomendasi.

Di bawah PARFI, rasa kebersamaan antar seniman film pun kian kuat karena perasaan senasib sepenanggungan di antara mereka. Meski demikian, di awal berdirinya, masih banyak tujuan PARFI yang belum bisa diwujudkan, salah satunya adalah membersihkan organisasi tersebut dari kegiatan berpolitik. Seperti yang terjadi di tahun 1964 saat Kongres III PARFI digelar. Sejumlah anggota cenderung mengikuti aksi PAFFIAS yaitu gerakan anti film Amerika. Saat itu, secara demonstratif mereka meninggalkan persidangan. Sehingga, Suryo Sumanto menjadi tumpuan harapan dari sekitar 300 anggota PARFI. Usai kongres tersebut, Suryo Sumanto dibantu dua wakilnya yakni Djoko Lelono dan Chaidir Dja’far, berhasil membebaskan PARFI dari cengkeraman kekuatan politik saat itu.

Selama menjabat sebagai Ketua Umum PARFI hingga periode ke III, Suryo kerap menjadi penasehat pada saat film-film Indonesia dilanda krisis. Di bawah kepemimpinannya, Parfi bersih dari campur tangan PKI dan antek-anteknya. PARFI bersama PPFI (Persatuan Perusahaan Film Indonesia) juga pernah menggelar demontrasi di depan Presiden Soekarno untuk mengatasi serbuan film asing yang kala itu tengah merebak dan merugikan industri perfilman Tanah Air. Masa kepemimpinan Suryo Sumanto menjadi tonggak bagi PARFI untuk memperjuangkan serta mempertinggi derajat dan martabat kesenian melalui film produksi anak negeri.

Di mata para koleganya, sosok Suryo Sumanto yang semasa hidupnya dikenal senang berkelakar ini tak sungkan menolong siapa pun yang tengah dilanda kesulitan terutama mereka yang bergelut di dunia perfilman. Suryo wafat pada 13 Juli 1971 di usia 53 tahun akibat serangan jantung. Dengan iringan rekan rekannya, tokoh yang juga dikenal sebagai Bapak Artis Film Indonesia ini diantarkan ke peristirahatannya yang terakhir di TPU Karet Bivak, Tanah Abang, Jakarta Pusat.

SHARE
Next articleUSMAR ISMAIL

LEAVE A REPLY