PB PARFI

PB PARFI

10 Asosiasi Profesi Film Yang Perlu Kamu Ketahui

Berikut ini adalah 10 asosiasi film yang perlu kamu ketahui. Ayo baca lebih lanjut.

Share:

1. Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI)

PARFI adalah Persatuan Artis Film Indonesia, sebuah asosiasi bidang seni peran tertua di Indonesia. Dulunya bernama SARI (Sarikat Artisan Indonesia) kemudian pada tahun 1956 berubah nama menjadi PARFI (Persatuan Artis Film Indonesia).

Sebagai sebuah organisasi profesi, PARFI berupaya untuk menghimpun para peseni-peran (aktor/aktris) film dalam organisasi tersebut agar kepentingan para artis menjadi terpenuhi.

Salah satu kepentingan yang paling krusial adalah masalah kontrak dengan pihak produksi dan juga terkait hak-hak asuransi selama shooting serta peningkatan kapasitas keaktoran.

PARFI sendiri setingkat dengan organisasi sejenis kelas internasional lainnya seperti SAG-AFTRA di Amerika, CINTAA di India dan Actor’s Guild lainnya di seluruh dunia.

Saat ini PARFI diketuai oleh Alicia Djohar, aktris senior Indonesia dan dikawal oleh Gusti Randa, S.H., M.H. sebagai sekretaris umumnya.

Gusti Randa sendiri memikili peranan yang sangat penting dalam normalisasi PARFI setelah sebelumnya terpecah pada masa kepemimpinan Gatot Brajamusti (alm.).

PARFI tercatat sebagai organisasi keartisan terbesar di Indonesia yang memiliki jaringan di setiap provinsi. Pengayoman kepada artis lokal (daerah) diserahkan kepada masing-masing Pengurus Wilayah PARFI yang ada di setiap provinsi tersebut.

2. Persatuan Karyawan Film dan Televisi (KFT)

KFT dibentuk di tempat dan alamat yang sama dengan tempat pengumuman Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yaitu di Pegangsaan Timur 56, kini disebut Jalan Proklamasi 56 Jakarta. Pada alamat itu KFT memulai tarikan nafas pertama memasuki pergolakan membangun Perfilman dan Pertelevisian kita yang baru menjajak tahun kedua.

Tepatnya, petang menjelang senja, tanggal 22 Maret 1964 disebuah ruangan sempit lantai bawah Gedung Pola sebelah Barat, berkumpul beberapa orang film dan televisi Indonesia, yaitu Asrul Sani (Sutradara/Penulis Skenario), Soemardjono (Editor), D. Djajakusuma (Sutradara), M.D. Aliff (Sutradara/Penulis Skenario), H. Amura (Publicity), Max Tera (Kamerawan), Sujudi (Penulis Skenario), R. Sutrisno (Sutradara), Sk. Sjamsuri (Editor), H.T. Djamil (Publicity), H.M.E. Zainuddin (Sutradara), Sutomo GS (Kamerawan), J. Marzuki (Sutradara), Chalid Arifin (Penata Artistik), Rachman Ramali (Kamerawan), Lie Gie San (Kamerawan), Trisno Juwono (Penulis Skenario), Pietradjaja Burnama (Sutradara) dan Soendoro (manager Produksi).

Pertemuan itu membahas kemelut yang sedang meliputi Perfilman sebagai akibat keadaan umum pada waktu itu. Perusahaan-perusahaan film banyak yang mengalami kebangkrutan. Banyak studio dan perusahaan memberhentikan karyawan-karyawan filmnya, yang sampai saat itu umumnya merupakan pegawai-pegawai tetap dengan gaji bulanan yang relatif rendah.

Serangkan politik dan kebudayaan yang terus dilancarkan PKI yang sedang mendapatkan angin baik dengan menggunakan LEKRA/Liga Film Indonesia, PAPFIAS dan antek-antek lainnya, turut mencekik perkembangan yang wajar bagi Perfilman kita.

Listrik yang  tiba-tiba padam tidak mengurangi hangatnya perbincangan. Akhirnya dalam cahaya lilin yang seadanya dapat menerangi wajah-wajah yang hadir, tepat pada waktu yang sangat simbolis, jam 19.45 WIB tercapailah kesepakatan membentuk Persatuan KARYAWAN FILM DAN TELEVISI INDONESIA, organisasi  yang bersifat profesi non politik dan berazaskan PANCASILA.

Sebagai pengurus untuk pertama kalinya, terpilih:

Ketua                           : Soemardjono
Sekr/Bendahara          : R. Soetrisno
Ketua Dep. Film          : M.D. Aliff
Ketua Dep. TV             : H.M.E Zainuddin

Kongres KFT tahun 1972, sudah mencerminkan eksistensi organisasi ini, sebuah slogan sederhana diteriakkan “Mencari Sejengkal Tanah yang Tersinar Matahari”, ternyata merupakan slogan yang mengandung banyak tuntutan dalam kenyataan hidup KFT selama tiga tahun terakhir.

Sejak itu tujuan yang hendak dicapai KFT semakin jelas. Posisinya di Dewan Film Nasional mengawali perjuangan meneguhkan kehadirannya sebagai eksponen baru di dunia film Indonesia yang diakui pemerintah sesuai dengan Undang-undang  NO. 1/PNPS/64.

Untuk mengarahkan penggunaan tenaga karyawan dalam azas pembinaan profesi, KFT merintis sebuah konsensus dengan Direktorat Film Deppen dan berhasil mencapai ketentuan tentang rekomendasi penggunaan karyawan untuk tiap-tiap kegiatan film Nasional, maupun untuk produksi bersama perusahaan asing.

Sistem rekomendasi ini diharapkan dapat merintis penerapan azas proteksi bagi karya dan karyawannya demikian juga untuk membatasi terlalu banyaknya tenaga asing yang bekerja di sektor ini. Sistem rekomendasi ini sangat berhasil untuk menanggulangi kasus-kasus penggunaan tenaga asing yang beberapa waktu lalu pernah menjadi persoalan gawat dan pelik untuk diatasi.

Di tahun 1973 KFT juga memberanikan diri turut serta memprakarsai terselenggaranya Festival Film Indonesia pertama yang setiap tahunnya juga diselenggarakan di berbagai daerah. Ini semata didorong oleh rasa wajib menciptakan kondisi Perfilman yang lebih baik, terutama kondisi yang mendorong pada kegiatan-kegiatan bersama ke arah azas integritas di dunia Film Indonesia. Disamping itu, juga bertitik tolak dari sudut pengembangan kejuruan dan keahlian, dipandang perlu adanya daya pendorong  spirituil untuk mencapai prestasi oleh para Karyawan Film dan Televisi Indonesia. Piala Citra juga menjadi symbol supremasi tertinggi di bidang Perfilman Indonesia yang dirancang oleh para Anggota KFT.

Iklim Perfilman yang cerah pada tahun 1973-1974 memberikan kesempatan kepada KFT untuk mendorong terselenggaranya berbagai lokakarya (Kino Workshop) melalui kerja sama dengan Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (sekarang IKJ) dengan bantuan dana dari Departemen Penerangan Republik Indonesia. Begitu juga bukan rahasia lagi bahwa didalam pengembangan Akademi Sinematografi LPKJ, partisipasi KFT disalurkan melalui anggota-anggotanya yang bertugas sebagai dosen dan pengasuh di lembaga pendidikan ini.

Dalam hal ini KFT juga melihat masa depan yang positif di dalam pembentukan kader-kader Perfilman untuk meningkatkan mutu kejuruan, yaitu harus melalui kaderisasi formil, baik dalam bentuk peraturan pengukuhan profesi yang lebih ketat, maupun melalui pendidikan yang teratur dan terarah.

Dalam sejarahnya kemudian, pada setiap fase kehidupan Perfilman, dalam setiap pasang surut Perfilman Indonesia, dalam berbagai upaya dan kegiatan, KFT selalu hadir dalam rangka menumbuhkan dan memajukan Perfilman Indonesia. Film Indonesia sebagai karya budaya dan melalui Film kita bangun karakter bangsa.

3. Rumah Aktor Indonesia (RAI)

Diketuai oleh Lukman Sardi, RAI dibentuk pada tahun 2013 untuk mewadahi para aktor profesional Indonesia. Gak tanggung-tanggung, mereka yang boleh bergabung dalam asosiasi ini hanya aktor yang telah membintangi sedikitnya 5 film! Konon hal ini juga dimaksudkan buat memperbaiki infrastruktur perfilman Indonesia. Namun demikian, Organisasi ini bukanlah ‘saingan’ PARFI. RAI sendiri lebih terfokus pada pembinaan dan pelatihan aktor muda untuk seni peran.

4. Indonesian Film Directors Club (IDFC)

Pertama kali berdiri pada 7 Oktober 2013, IDFC memberikan kesempatan bagi para sutradara Indonesia untuk meningkatkan kapasitas dan komunikasi. Posisi ketua IDFC sendiri kini dijabat oleh Ifa Isfansyah, yang namanya melejit setelah menyutradai film panjang pertamanya, Garuda di Dadaku (2009).

5. Penulis Indonesia Untuk Layar Lebar (PILAR)

Bertambahnya jumlah film dan penonton di Indonesia ternyata gak sebanding sama jumlah penulis skenario. Fakta ini dibeberkan oleh Salman Aristo, Ketua Asosiasi Penulis Indonesia untuk Layar Lebar (PILAR). Salman Aristo menyebut, penulis skenario yang aktif dan tercatat di PILAR hanya 80 orang.

5. Indonesian Film Editors (INAFEd)

Diketuai oleh Cesa David Luckmansyah, INAFEd menjadi wadah diskusi di antara anggotanya sendiri mengenai editing film dan perfilman. Mirip seperti PARFI, KFT, RAI, PILAR, INAFEd juga menerapkan seleksi yang ketat untuk para calon anggotanya: baru bisa bergabung jika punya minimal 10 portfolio film dalam setahun!

6. Indonesian Motion Picture And Audio Association (IMPAct)

Asosiasi yang berdiri sejak 23 Agustus 2013 ini mewadahi para sound recordist, penata suara, dan penata musik film Indonesia. Kini diketuai oleh Tya Subiakto, IMPAct menaungi lebih dari 50 orang anggota. Selain berperan untuk menetapkan standar dan profesionalisme kerja, IMPAct juga menjadi ruang diskusi bagi para anggotanya. Mereka juga tak menutup kemungkinan untuk memberi edukasi soal audio pada masyarakat luas.

7. Asosiasi Casting Indonesia (ACI)

Berdiri sejak Agustus 2013, seperti yang tertulis di laman resmi mereka, Asosiasi Casting Indonesia merupakan wadah bagi para seniman di bidang casting atau pencarian aktor/pemain di dalam sebuah produksi, baik itu film, TV, maupun iklan. Mereka juga mendukung, merekomendasikan, dan mempromosikan peran Casting Director secara umum di dalam industri hiburan.

 8. Asosiasi Produser Film Indonesia (APROFI)

Asosiasi ini lahir dari kebutuhan dan aspirasi para produser Indonesia untuk ikut memberikan kontribusi pada pengembangan industri film Indonesia dalam berbagai aspek. Menariknya, ga cuma para produser dari rumah-rumah produksi aja yang bisa gabung bersama asosiasi ini, tapi produser independen pun punya kesempatan yang sama.

9. Sinematografer Indonesia (SI)

Biasa disebut juga Indonesia Cinematographer Society, organisasi profesi ini didirikan di Jakarta pada tahun 2014. Dengan tujuan memajukan seni dan ilmu sinematografi, SI berperan juga dalam memberi wadah bagi para sinematografer untuk bertukar ide, mendiskusikan teknik dan mempromosikan film sebagai bentuk seni. Masih aktif hingga kini, SI pun rutin mengirim delegasi di beragam ajang internasional, seperti International Cinematographer Summit.

10. Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI)

Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI) didirikan di Jakarta, Senin 16 Juli 1956 dengan Akta Notaris Meester Raden Soedja Nomor 118. Melalui SK Menteri Penerangan RI No.1148/KEP/MENPEN/1976 tanggal 24 Agustus 1976, tentang Pengukuhan Organisasi Perfilman Sebagai Organisasi Profesi, PPFI dikukuhkan sebagai satu-satunya organisasi yang mempunyai usaha di bidang Produksi Film Nasional. Sesuai amanat Kongres, PPFI bersama organisasi perfilman lainny ikut memperjuangkan peninjauan Undang-Undang Perfilman dan Peraturan-peraturan pelaksanaannya agar menampung kebutuhan atau tuntutan reformasi dibidang perfilman. Diantaranya, agar fungsi stasiun televisi sebagai lembaga penyiaran lebih dipertegas dan tidak terlalu jauh menangani produksi. Hal ini untuk memberikan kesempatan tumbuhnya industri perfilman Indonesia.

PPFI juga berperan aktif dalam aktifitas perfilaman baik nasional, regional dan internasional. Mengusulkan kepada eksekutif/legislatif  sebuah peraturan/undang-undang yang dapat memberi perlindungan kepada anggota-anggota yang berusaha dibidang production house. Melakukan terobosan pemasaran film-film produksi anggotanya, baik ke pasar dalam negeri maupun pasar luar negeri. Melakukan pendekatan kepada stasiun (broadcast) agar tetap tercipta peluang atas produksi seluruh anggota PPFI. Menjalin kerjasama antar PPFI dengan Asosiasi Stasiun Televisi di Indonesia dalam rangka pembinaan dan produksi film layar lebar.

Disadur dari berbagai sumber.
Editor: ILK.

 

More to explorer

Daftar film Indonesia terlaris sepanjang masa

Film Indonesia yang pertama kali merengkuh sejuta penonton adalah Nagabonar Jadi 2 dengan perolehan 1.246.174 penonton, disusul Get Married yang mematahkan rekor sebelumnya yaitu 1.389.454 penonton dan Quickie Express dengan perolehan 1.018.654 penonton yang semuanya ditayangkan pada 2007.

More Posts

Daftar film Indonesia terlaris sepanjang masa

Film Indonesia yang pertama kali merengkuh sejuta penonton adalah Nagabonar Jadi 2 dengan perolehan 1.246.174 penonton, disusul Get Married yang mematahkan rekor sebelumnya yaitu 1.389.454 penonton dan Quickie Express dengan perolehan 1.018.654 penonton yang semuanya ditayangkan pada 2007.

Organisasi Artis

Cuma yang jarang diketahui masyarakat luas, dari 100 judul lebih film nasional yang masuk ke bioskop, cuma 10 persen yg meraup untung, 30 persen BEP, sisanya nyungsep sampe benjut-benjut dan “patah iga”.