Apa & Siapa Soekarno M. Noor

Share:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email

Soekarno M. Noor adalah aktor terbaik Festival Film Indonesia (FFI) dalam film Anakku Sajang (1960), Dibalik Tjahaja Gemerlapan (1967), dan Kemelut Hidup (1979). Ia juga terpilih sebagai Aktor Terbaik PWI Jaya, lewat Jembatan Merah (1973) dan Raja Jin Penjaga Pintu Kereta (1974). Di bidang teater, ia dianugerahi Hadiah Seni dari Pemerintahan untuk pengabdiannya, juga Hadiah Surjosoemanto dari PB2N tahun 1985.

Lahir di Jakarta, 13 September 1931, ia bermain sebagai pemeran utama di lebih dari 68 film. Ia juga aktif di Parfi sebagai Ketua I (1972-1974) dan Ketua umum dua periode (1974-1978), dan mengadakan pelatihan seni peran dan analisa skenario, agar aktor tak sekadar mengandalkan bakat alam. Dari pernikahannya dengan Lily Istiarti, ia memperoleh enam orang anak, termasuk Tino Karno, Rano Karno, dan Suti Karno.

Ia mulai berseni peran pada 1953, lewat pementasan Runtuhan. Tahun itu pula ia pertama kali bermain sebagai figuran dalam Meratjut Sukma. Peran utama baru dia mainkan pada Gambang Semarang (1955).

Pada 1970, “seniman Pasar Senen” itu mendirikan PT Kartika Binaprama yang melahirkan Honey Money and Djakarta Fair. Tapi, ia tetap lebih dikenal sebagai aktor watak kelas satu. Soekarno M. Noer wafat pada 26 Juli 1986. Film terakhirnya adalah Opera Jakarta.

Soekarno M. Noor dalam adegan film "Pagar Kawat Berduri (1961)"
Soekarno M. Noor dalam adegan film “Pagar Kawat Berduri (1961)”

Ia adalah salah satu aktor watak Indonesia yang kehadirannya di layar sangat kuat selama tiga dekade. Screen persona Soekarno M. Noor bukan karena ia ganteng, tapi sepenuhnya karena selalu total menghadirkan diri dalam setiap filmnya. Kehadirannya yang melintas batas-batas genre dan bahkan kekelompokan politik para seniman semasanya, membuat ia jadi semacam penanda penting sejarah film Indonesia.

Soekarno M. Noer bermain dalam film-film karya seniman Lesbumi (Usmar Ismail, Asrul Sani, Misbach Jusa Biran, D. Djajakusuma) yang bertaut dengan Nahdhatul Ulama. Tapi, ia juga serta dalam film-film karya seniman Lekra (Lembaga Kebudajaan Rakyat) yang bertaut dengan PKI, seperti Bachtiar Siagian dan Basuki Efendi. Ia tetap bermain semasa Orde Baru, baik film-film nyeni maupun yang ngepop. Pada semua, ia tak pernah kehilangan penjiwaan.

Pilihan-pilihan perannya sering berisiko tinggi. Simak saja peran-perannya dalam enam film yang diputar di Kineforum bulan Maret 2010 silam. Ia menjadi Harun, juragan gay yang sedikit sinting dan menakutkan, dalam Titian Serambut Dibelah Tujuh (1982). Ia adalah seorang promotor musik yang diduga tukang tipu, dalam Di Balik Tjahaja Gemerlapan (1966). Ia adalah napi buronan, salah satu dari tiga, yang lunak hati menyayangi seorang gadis cilik, dalam Senyum di Pagi Bulan Desember (1974). Atau, jadi bekas pemain lenong yang jadi penjaga rel kereta dan secara mengenaskan dieksploitasi pemilik warung, dalam Raja Jin Penjaga Pintu Kereta (1974). Fasih pula ia jadi seorang pejuang yang berdebat filsafat dalam Pagar Kawat Berduri (1962). Dan, menjelang wafatnya, ia sempat diunggulkan sebagai pemeran pembantu terbaik dalam film terakhir Sjuman Djaya, Opera Jakarta (1986).

Tahun 2010, Rumah Film menyeleksi beberapa film Soekarno M. Noer untuk dipertunjukkan di Body of Works aktor besar ini. Film-film tersebut adalah:

  1. Raja Jin Penjaga Pintu Kereta Api (1974), Drama, DVD, 98 menit (B Indonesia), Sutradara: Wahab Abdi, Pemain: Soekarno M Noer, Rina Hassim, Mansjur Sjah, dan Tan Tjeng Bok (UNTUK 15 TAHUN KEATAS). Gono, bekas pemain lenong dengan peran khas Raja Jin, bertugas menjadi penjaga pintu lintasan kereta api. Dalam seluruh tindak-tanduknya, baik dalam pekerjaan maupun di rumah, Ia tidak pernah melepaskan peran lenong yang sangat di senanginya itu, tapi tidak bisa diteruskan karena keluarga istrinya sangat benci dengan pekerjaannya. Film ini membuahkan penghargaan aktor terbaik PWI 1974-1975 bagi Soekarno M. Noer.
  2. Di Balik Tjahaja Gemerlapan (1966), Drama, DVD (Bahasa Indonesia), Sutradara: Misbach Jusa Biran, Pemain: Soekarno M Noer, Titiek Puspa, Nani Widjaja, dan Rachmat Kartolo (UNTUK 15 TAHUN KEATAS) Djoni promotor yang sering menipu seniman, dengan rayuannya akhirnya bisa dipercaya mengatur pertunjukan yang dimaksud untuk mencari dana pertunjukan sendra tari. Djoni menunjukan kelihaiannya, kali ini Ia mengatur pertunjukan dengan cara koboi. Pada film ini Soekarno M. Noer mendapat penghargaan pemeran utama pria terbaik dalam penghargaan Pekan Apresiasi Film 1967
  3. Senyum di Pagi Bulan Desember (1974) , Drama, 35mm, 145 menit, (B Indonesia|Subtitle B Inggris), Sutradara: Wim Umboh, Pemain: Soekarno M Noer, Rachmat Hidayat, Kusno Sudjarwadi, dan Santi Sardi (UNTUK 15 TAHUN KEATAS) Buang, Bernardus, dan Bakar, tiga narapidana yang melarikan diri saat terjadi pemberontakan di penjara. Pertemuan dengan Bunga, gadis cilik yang kesepian karena orang tuannya sibuk bekerja, sementara rumahnya terpencil dari rumah tetanga, hal ini membuat tiga narapidana tersebut menjadi manusia biasa kembali. Film ini mendapat Piala Citra pada FFI 1975 untuk film dan musik.
  4. Titian Serambut Dibelah Tujuh (1982), Drama, DVD, (B Indonesia), Sutradara: Chaerul Umam, Pemain: Soekarno M Noer, El Manik, Dewi Irawan, dan Soultan Saladin. (UNTUK 15 TAHUN KEATAS) Ibrahim, guru muda yang teguh. Menemukan kejanggalan-kejanggalan dalam kehidupan kampung yang ditinggali. Hatinya membenarkan apa yang dikatakan musafir tua, bahwa kehidupan masyarakat diibaratkan sebagai layang-layang putus. Film ini mendapat Piala Citra pada FFI 1983 untuk Skenario, dan Penghargaan PWI Jaya sebagai Film Drama Terbaik 1983
  5. Suci Sang Primadona (1977) , Drama, 35 mm, 116 menit, (B Indonesia), Sutradara: Arifin C Noer, Pemain: Soekarno M Noer, Joice Erna, Rano Karno, dan Awaludin. (UNTUK 15 TAHUN KEATAS) Suci nampak dibuat-buat permainannya bila berhadapan dengan Oom Kapten, Pak Dawud, dan tuan Condro. Tiga lelaki ini tempat Suci, primadona panggung teater rakyat, meraih impiannya tentang kekayaan. Film terlaris IV di Jakarta 1978
  6. Pagar Kawat Berduri (1961), Drama, 35mm, 123 menit, (B Indonesia| subtitle B Inggris), Sutradara: Asrul Sani, Pemain: Soekarno M Noer, Ismed M Noer, Wahab Abdi, dan Mansjur Sjah. (UNTUK 12 TAHUN KEATAS) Dalam sebuah kamp Belanda di masa revolusi fisik terdapat sejumlah pejuang yang ditawan. Hampir semua berusaha lari, tapi tidak gampang. Sementara yang lain berusaha meloloskan diri, Parman malah bersahabat dengan koenen seorang perwira Belanda unutuk mencari informasi.
  7. Opera Jakarta (1985) , Drama, 35 mm, 181 menit, (B Indonesia | subtitle B Inggris), Sutradara: Sjuman Djaya. Pemain: Soekarno M Noer, Zoraya Perucha, Ray Sahetapy, dan Nani Widjaja (UNTUK 15 TAHUN KEATAS) Klinem pulang ke Bekonang, Solo untuk menyerahkan bayinya pada neneknya dan lalu pergi lagi. Joko nama bayi tersebut tumbuh tanpa mengetahui siapa ibunya, Joko memiliki kegemaran di bidang tinju dan menjadi pemimpin di antara teman-teman sebayanya. Piala Citra untuk kategori Pemeran Pembantu Pria diberikan pada Soekarno M. Noer. Demikian pula untuk Film, dan Sutradara terbaik pada FFI 1986.

Editor: ILK

More to explorer

More Posts