Eksil Film Tentang Apa? Di Beberapa Bioskop Dilarang Tayang

Jason PARFI

Eksil Film Tentang Apa

PARFI – Akhir-akhir ini di media sosial sedang ramai pembicaraan tentang film eksil, tetapi masih banyak orang belum tahu Eksil film tentang apa? Dan mengapa film ini dilarang tayang di beberapa bioskop yang ada di Indonesia.

Eksil film sesungguhnya adalah sebuah film dokumenter yang sudah dirilis pada tahun awal bulan Februari 2024 lalu. Film ini disutradarai oleh Lola Amaria dengan panjang durasi film 119 menit. Adapun pemeran film ini antara lain: Hartoni Ubes, Asahan Alham, Sarjio Mintardjo, I Gede Arka.

Baca Juga: Apa itu Film Eksil? Sinopsis, Kapan dan Tayang Dimana Saja?

Eksil Film Tentang Apa?

Eksil Film Tentang Apa

Karena ada banyak larangan tayang di beberapa bioskop di Indonesia, membuat banyak orang bertanya-tanya tentang Eksil Film tentang apa?

Eksil adalah sebuah film dokumenter yang disutradarai oleh Lola Amaria, yang dimana film ini bercerita tentang nasib para mahasiswa yang hilang kewarganegaraannya setelah peristiwa 30 September.

Baca Juga: Sinopsis Kupu Kupu Kertas: Kisah Cinta Berlatar Sejarah NU – PKI

Sinopsis Eksil Film

Sinopsis Eksil Film

Di film ini bercerita tentang kisah para mahasiswa yang tengah menempuh pendidikan di tahun 1965 di luar negeri. Mereka kuliah di luar negeri berkat beasiswa yang digalangkan oleh Presiden Soekarno.

Tetapi setelah lengsernya Presiden Soekarno, mereka terjebak tidak bisa pulang ke Indonesia. Merka tidak bisa pulang ke Indonesia karena dituduh sebagai simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI). Para mahasiswa yang terjebak di luar negeri ini tersebar di banyak negara, seperti Jerman, Belanda, Uni Soviet, China, Swedia, dan Cheko-Slovakia.

Para Pelajar dan Mahasiswa ini tidak diberi izin untuk pulang ke Indonesia selama mereka tidak menandatangani surat pernyataan dan melakukan interogasi.

Karena tuduhan tersebut, sehingga mereka menjadi eksil karena terjabak di luar negeri selama lebih dari 30 tahun. Mereka selama berada di luar negeri tidak memiliki status kewarganegaraan manapun. Sehingga mereka harus bertahan hidup dengan cara berpindah-pindah negara.

Mereka berjuang mencari perlindungan dan sukarelawan dari orang-orang yang mau menerimanya. Selama berada di luar negeri, mereka juga harus putus kontak dengan keluarga yang berada di Indonesia.

Demi bisa bertahan hidup di luar negeri, para pelajar dan mahasiswa ini terpaksa bekerja pekerjaan apapun walaupun tidak sesuai dengan keahlian dan latar pendidikan yang dimilikinya.

Eksil film ini memiliki durasi 1 jam 58 menit, selama 2 jam kurang penonton akan diajak menonton kisah pilu dari para eksil yang harus tinggal di negara orang karena terusir dari negara tanah kelahirannya sendiri.

Selama menjadi eksil, mereka memiliki tekad untuk menemukan jalan pulang agar bisa kembali dengan keluarga dan kerabat di tanah air. Kisah perjalanan hidup para eksil dalam film ini disajikan dalam bentuk wawancara, arsip dan rekaman video yang tersimpan rapi sampai sekarang.

Baca Juga: Film Dirty Vote: Pro-Kontra Pemilu 2024

Penayangan Eksil Film di Bioskop

Penayangan Eksil Film di Bioskop

Film Eksil sebenarnya telah tayang di bioskop sejak 1 Februari 2024, tetapi sayangnya film ini tayang terbatas di bioskop Indonesia.

Padahal film Eksil ini sebelumnya telah berhasil mendapatkan penghargaan sebagai film Indonesia Terbaik di ajang Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) 2022.

Dan film ini pertama kali di tayangkan perdana juga di ajang JAFF 2022 di tanggal 27 November 2022. Film ini sebenarnya telah digarap sejak tahun 2015 dan baru selesai di tahun 2022.

Setelah itu, film ini juga masuk dalam kategori Film Dokumenter Panjang Terbaik di Festival Film Indonesia 2023 dan berhasil mendapatkan penghargaan Piala Citra.

Untuk penayangan film Eksil ini di tayangkan di beberapa bioskop yang ada di CGV Aeon Mall JGC, Plaza Senayan, FLIX Ashta District 8 dan Cinepolis Plaza Semanggi.

Eksil Film Dilarang Tayang di Beberapa Bioskop

Walaupun Eksil film ini telah tayang di beberapa bioskop di Indonesia sejak 1 Februari 2024. Tetapi film Eksil ini di beberapa kota seperti Samarinda mendapatkan larangan tayang.

Penayangan film eksil di Samarinda ini diklaim dilarang oleh beberapa pihak seperti Kesbangpol, aparat Polresta setempat dan termasuk pihak bioskop. Larangan penayangan film ini dikabarkan disebabkan karena terdapat unsur HAM yang memiliki potensi mempengaruhi situasi Kamtibnas Pemilu jadi tidak kondusif.

Selain itu, di Plaza Mulia CGV juga sempat ada jadwal tayang di 22 Februari 2024, pukul 17.00 WITA  tetapi akhirnya batal ditayangkan. Alasan dari pihak CGV membatalkan penayangan film tersebut dikarenakan harus mengurus ijin keramaian dari kepolisian terlebih dahulu.

Karena adanya larangan dan pembatalan tayang film ini  di Samarinda, banyak orang menganggap bahwa telah terjadi pembungkaman demokrasi dan hak kebebasan berkekspresi.

Akhir Kata

Jadi itulah tadi penjelasan tentang jawaban eksil film tentang apa dan mengapa di beberapa bioskop film eksil ini dilarang ditayangkan. Untuk kamu yang masih ingin menonton film ini dibioskop, mungkin kamu harus mencari jadwal tayang film Eksil ini dibioskop di tempat tinggalmu. Karena sejak penayangan perdananya di 1 Februari 2024, masih ada beberapa bioskop yang menayangkan film ini.

Untuk kamu yang suka dengan genre film dokumenter sejarah Indonesia, film eksil ini tidak boleh dilewatkan untuk ditonton. Apalagi jika sebelumnya kamu belum mengetahui ada sejarah kelam para pelajar dan mahasiswa di Indonesia yang harus berjuang hidup mati-matian di negara orang sejak peristiwa lengsernya presiden Soekarno.

Baca Juga

Jason PARFI

Jason Setiawan adalah seorang kritikus film yang berbasis di Jakarta, Indonesia. Sejak memasuki dunia jurnalistik film, ia telah menyampaikan pandangan kritisnya tentang berbagai film dari berbagai genre dan budaya. Dikenal karena tulisannya yang tajam dan analitis, Jason sering memberikan wawasan mendalam tentang aspek teknis dan naratif dalam karya-karya sinematik. Melalui artikel-artikelnya yang beragam, ia terus berkontribusi dalam membentuk pandangan dan kesadaran pembaca tentang seni dan industri perfilman.